Muhammad Ainul Yaqin Ahsan | Yogyakarta
![]() |
| Gambar ilustrasi Jalan Dakwah |
Pada
suatu kesempatan para sahabat Rasulullah Saw menghadap beliau, kala itu dikota
makkah. Ketika beban-beban didalam hidup dan perjuangan mereka terasa semakin
menyesakkan. Ketika risalah yang agung dan berat telah Allah SWT gambarkan
kalau diturunkan kepada gunung niscaya gunung itu akan hancur berantakan karena
takut kepada Allah SWT. Bagaimana permusuhan yang dikobarkan oleh orang-orang
Quraish, sambitan Uqbah bin Abi Mua’id, lemparan batu Nadhar bin Harrits,
kata-kata keji dari lisan Abu Lahab, dan penyiksaan datang dari Abu Jahal dan
kawan-kawannya yang membebani kaum muslimin dan jiwa mereka terasa sempit. Maka
para sahabat menghadap Nabi SAW dan berkata:
“Ya
Rasulullah, tidakkah engkau bercerita untuk meringankan hati kami?”
Demikian
ini diceritakan oleh Saad bin Abi Waqqas ra dan Abdullah bin Abbas ra seperti dikutib
oleh al-Imam As Suyuti dalam libabun
nuqul fii asbabin nuzul. Maka Allah SWT atas permintaan para sahabat
menurunkan firmannya yang mulia dan memulainya dengan kata-kata,
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآَنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ
الْغَافِلِينَ
“Kami menceritakan kepadamu kisah
yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu
sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum
Mengetahui”. (Q.S. Yusuf: 3)
Cerita
itu tentang hidup yang penuh liku-liku. Cerita hidup yang dipenuhi oleh
nilai-nilai pengabdian kepada Allah SWT dan bagaimana memberikan manfaat kepada
umat, cerita itu adalah surat Yusuf. Ketika para sahabat berada di makkah
merasakan berbagai tekanan dan penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang
Quraish karena harus menegakkan tauhid laa
ilaaha illa Allah. Mereka meminta kepada Nabi Saw untuk memberikan sebuah
cerita atau kisah, maka Allah SWT memberikan cerita tentang Yusuf.
Yaitu
seorang anak yang disayang oleh orangtuanya tapi di dengki oleh para saudaranya,
lalu dibuang kedalam sumur hingga ditemukan oleh kafilah dagang dan menjualnya
dengan harga yang murah sebagai budak, lalu digoda oleh majikan dan difitnah
oleh yang menggodanya, lalu dijadikan objek balas dendam karena sang penggoda
di gosipkan orang dan dimasukkan kedalam penjara atas pilihannya sendiri, lalu
berdakwah kepada kedua rekannya di penjara tapi dilupakan oleh rekan yang
selamat dari penjara, lalu tampil menghadap sang raja ketika negara dalam
keadaan genting dan menerima tugas untuk menyelamatkan negara dari kebangkrutan
dan kelaparan, lalu menjadi seorang penjabat yang mengatur berbagai macam
wewenang, lalu berjumpa dengan saudara-saudaranya yang datang dan menskenario
agar saudaranya yang tersayang datang kepadanya, lalu menskenario lagi agar
orang tuanya juga bergabung dan memaafkan saudara-saudaranya, lalu mencapai
puncak cita-citanya dan berkata kepada Allah SWT:
تَوَفَّنِي
مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“wafatkanlah aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
(Q.S. Yusuf: 101)
Cerita
ini, semestinya kita hayati dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. Ketika
setiap saat kita berkata “ihdinash
shirathal mustaqiim” Ya Allah tunjukkan kepada kami jalan yang lurus. Dan
jalan yang lurus itu adalah “shirathal
ladzina an’amta ‘alaihim” jalan orang-orang yang diberi nikmat. Maka
lurusnya kepada Allah SWT seperti kata Isa a.s,
إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا
صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
“Sesungguhnya
Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang
lurus". (Q.S. Ali Imran: 51)
Lurusnya kepada Allah SWT adapun hidup di dunia,
dijalan yang lurus itu hidup yang paling indah. Kisah yang paling indah adalah
kisah hidup yang berliku-liku sebab berjuang fii
sabilillah seperti Yusuf a.s.
Dan yang menakjubkan lagi, surat Yusuf ini menjelang akhir ditutup dengan
sebuah perintah Allah Azza Wajalla kepada
Rasulullah Saw untuk mengatakan di ayat yang ke 108,
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو
إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ
وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan
orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang
nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".” (Q.S.
Yusuf: 108)
Seakan-akan, setelah Allah
menjelaskan bahwa sebaik-baik hidup adalah hidup yang berliku-liku. Sebaik-baik
kisah adalah kisah yang penuh dengan tantangan dan hambatan tetapi juga hikmah,
karunia, tamkin yang diberikan oleh
Allah SWT. Hidup yang terbaik adalah hidup dengan nilai-nilai kebenaran di
tengah masyarakat yang belum mengenal kebenaran, lalu mengenalkan kebenaran itu
kepada mereka. Maka untuk mengikat semua makna itu Allah mengatakan kepada
Rasul-Nya surat Yusuf ayat 108.
Ayat ini sebagai ikrar kebanggaan
untuk kita yang ingin menjadi orang-orang yang setia dengan tulus bersama
Rasulullah Saw.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar